Kenapa kebanyakan orang berbohong tentang gairah mereka sesungguhnya?

Sangatlah jarang manusia melalui hidup ini tanpa merasa bahwa mereka sedikit “aneh” dalam hal seks. Ini adalah bidang dimana kebanyakan dari kita memiliki kesan memalukan, di dalam hati kita, bahwa kita agak berbeda dari kebanyakan orang.

Meskipun merupakan salah satu aktivitas yang paling pribadi, seks dikelilingi bermacam-macam norma dan ide yang diterapkan dengan ketat secara sosial yang menentukan bagaimana perasaan dan tindakan normal berkenaan dengan masalah ini. Kenyataannya, hanya sedikit di antara kita yang secara seksual bisa disebut normal. Hampir semua di antara kita dihantui oleh rasa bersalah dan neurosis, oleh fobia dan gairah yang mengganggu, oleh keacuhan dan rasa jijik. Kita secara universal memang menyimpang—tapi hanya jika dibandingkan dengan ide dan norma kenormalan yang sangat terdistorsi.

Hampir semua bagian dari diri kita secara seksual tetap mustahil untuk dikomunikasikan kepada orang yang kita harapkan dapat melihat diri kita dengan pandangan yang baik. Pria dan wanita yang sedang jatuh cinta secara instingtif menahan dari berbagi terlalu banyak gairah mereka karena rasa takut, yang biasanya akurat, akan menimbulkan rasa jijik yang tidak bisa ditoleransi oleh pasangan mereka.

Tidak ada hal yang erotik yang juga tidak (dengan orang yang salah) terasa menjijikkan, yang sebenarnya membuat momen erotis terasa sangat intens: Pada titik waktu yang tepat dimana rasa jijik bisa kita lupakan, kita bisa menemukan rasa diterima dan kerelaan. Bayangkan dua lidah yang saling menjelajah bagian pribadi mulut kita—rongga gelap dan basah yang tidak pernah dimasuki orang lain kecuali dokter gigi kita. Sifat istimewa dari bersatunya dua orang disegel dengan tindakan yang jika hal itu dilakukan dengan orang lain maka hal itu malah akan membuat keduanya jijik.

Apa yang terjadi antara pasangan di tempat tidur adalah tindakan rekonsiliasi yang disetujui bersama antara dua diri seksual rahasia yang akhirnya keluar dari kesendirian yang penuh dosa. Perilaku mereka jauh berbeda dengan perilaku yang diharapkan dunia beradab pada mereka. Setidaknya, dalam keremang-remangan itu kedua pasangan bisa saling mengakui berbagai hal mesum dan gila yang yang diinginkan tubuh mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *